Kisah "Hoaks" di Zaman Nabi


Watampone, Penainspirasi-Hoaks atau berita bohong merupakan fenomena yang sedang gencar di era digital. Banyak dari oknum dan pihak tertentu yang sengaja merekayasa kebohongan untuk mengadu domba orang lain atau sekedar mencari sensasi. Hoax dapat menimbulkan fitnah, menjatuhkan nama baik, bahkan dapat berujung pada tindak kekerasan dan pembunuhan.

Alquran menyebutkan hoax (bohong) dengan kata ifkan yang merupakan isim masdhar dari kata kerja afaka-ya’fiku-ifkan, sebagaimana dalam surat al-Ahqaf ayat 28;

بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Artinya; “bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.”

Hoax bukanlah sesuatu yang baru. Fenomena ini sudah terjadi pada zaman nabi dan bahkan menimpa keluarga nabi. Hoax pada zaman Nabi terkisahkan dalam Hadis Shahih Riwayat Bukhari dari Aisyah, diceritakan bahwa sepulang dari perang Muraisi’ beliau tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang terjatuh di jalan. Sekembalinya dari pencarian tersebut, Sayyidah Aisyah tidak menemukan untanya parkir di tempat semula.

Pada saat itu, seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu’attal melihat Aisyah dan menawarinya kendaraan (unta) untuk pulang. Sayyidah Aisyah pun menaikinya, dan sahabat berjalan di sebelahnya sampai keduanya bertemu dengan rombongan lain. Peristiwa “berduaan” Aisyah dan Shafwan ini kemudian digemborkan sebagai perselingkuhan. Dalam kitab Umdatul Qari syarh dari Shahih al Bukhari karya Badruddin Al A’ini disebutkan bahwa penyebar hoax itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Akibat isu tersebut disebutkan dalam riwayat yang sama bahwa Sayydiah Aisyah didiamkan oleh Nabi selama sebulan. Setiap hari beliau selalu menangis dan sedih karena tidak ada saksi yang beliau datangkan dalam kejadian tersebut.
Namun kemudian Allah menurunkan al Quran surat An Nur ayat 11-15 sebagai jawaban dari kebohongan berita tersebut. Peristiwa hoax atau yang dikenal dengan Hadits Ifki ini sekaligus menjadi asbab an nuzul ayat tersebut.

Betapa hoax sangat berdampak buruk pada kehidupan sosial seseorang, termasuk Nabi sendiri yang notabenenya adalah kekasih Allah. Oleh karenanya agama menganjurkan untuk klarifikasi (tabayyun) terhadap berita yang sampai kepada kita. Klarifikasi ini berfungsi untuk mendapatkan kejelasan dan kebenaran berita tersebut sebagaimana firman Allah dalam QS; Al-Hujrat ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sumber : Bincangsyariah.com
Editor    : Edy F. Noya
Komentar

Berita Terkini