Kisah soal Andi Arief: Tim Mawar 98 hingga Hoaks Komunis Orba




Foto Andi Arif- Sekjenn Partai Demokrat yang tertangkap pesta narkoba.


Penaipsirirasi.com, Jakarta-Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief yang juga dikenal sebagai salah satu aktivis 1998 terjerat kasus narkoba.

Pria kelahiran Lampung pada 1970 silam itu diamankan polisi di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat. Dalam pemeriksaan urine Andi Arief positif mengandung methamphetamine atau jenis narkoba sabu, usai penangkapannya, Minggu (3/3) malam.

Kabar diamankannya Andi Arief pun membuat geger tokoh politik nasional, terutama sesama rekannya aktivis di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang menentang Orde Baru. Salah satunya Nezar Patria yang pernah berkecimpung bersama Andi Arief di SMID dan juga masuk dalam daftar 'penculikan tim mawar' setelah peristiwa 27 Juli 1996.


"Saya mengenalnya cukup lama, sejak kami menjadi mahasiswa di UGM dan bersama menggerakkan jaringan mahasiswa prodemokrasi di berbagai kota pada awal 1990an dan bersama masuk daftar aktivis gerakan mahasiswa yang diculik Tim Mawar pada 1998," kata Nezar yang kini dikenal sebagai salah satu jurnalis senior tersebut dalam akun Facebooknya, Senin (4/3) malam.

Nezar menyatakan catatan yang dibuatnya di akun pribadi itu bukanlah pembelaan untuk Andi Arief, karena ia percaya sang kawan berani menghadapi risiko terburuk atas apa yang dilakukannya.

Memori Nezar akan Andi Arief pun melompat ke masa sebelum reformasi 1998, di mana ada penyerangan markas PDI yang berada di Jakarta Pusat pada 27 Juli 1996. Menurut Nezar peristiwa itu adalah pengantar ke eskalasi politik kejatuhan kediktatoran Orde Baru. Saat 1996 itu, SMID dituding sebagai dalang kerusuhan serta dicap sebagai organisasi terlarang oleh Orba.

"AA tiba-tiba muncul di sebuah jumpa pers di Yogya, yang diorganisir diam-diam, dan setelah memberi pernyataan menggemparkan, dia kembali menghilang bersama kawan-kawannya. Jakarta murka karena pada saat jumpa pers itu AA merontokkan semua versi tuduhan Orba itu. Dia, saat itu Ketua Umum SMID, menjadi buruan nomor satu setelah Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan PRD ditangkap," tutur Nezar.

Andi Arief dicokok segerombol pria berambut cepak pada 28 Maret 1998 di ruko milik kakaknya di Bandar Lampung. Kisah penculikan para aktivis, termasuk Andi Arief, itu setidaknya bisa dibaca dalam buku karya Erros Djarot dkk berjudul Prabowo Sang Kontroversi: Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang.
Bukan hanya itu, saat masih dalam pencarian tim Mawar, Nezar menceritakan ia dan kawan-kawan termasuk Andi difitnah dengan hoaks sebagai anak-anak komunis.

"Berbagai 'hoax' muncul, bahwa anak-anak muda itu adalah titisan komunis, yang tentu saja ditanggapi masyarakat sebagai dagelan politik yang menggelikan. YB Mangunwijaya pernah menulis kolom di sebuah majalah saat tuduhan itu terlontar, dan dia mencontohkan bagaimana AA yang melakukan jumpa pers diam-diam itu dengan mengenakan baju sofbol dituduh aneh-aneh. 'Bagaimana mungkin anak-anak muda berwajah mbois itu komunis?', begitu kira-kira Romo Mangun menulis. AA sejak itu memimpin jaringan PRD bawah tanah. Dia sangat garang. Hidupnya 24 jam politik. Sampai semuanya berakhir di 1998," tulis Nezar.


Andi disebut disekap selama 17 hari, di mana ia diinterogasi para penculik yang meminta keterangan perihal tokoh-tokoh yang dianggap beroposisi pada rezim Orde Baru. Ia bebas dari 'tahanan politik' itu pada Juli 1998.

Nezar mengakui setelah Orde Baru tumbang, para mantan aktivis mahasiswa itu termasuk mereka yang berada dalam gerbong SMID memilih jalannya masing-masing dari mulai menjadi akademisi, pengusaha, wartawan, hingga politikus seperti Andi. Namun, tegas Nezar, di luar jalan hidup tersebut Andi tetaplah seorang kawan yang baik dan peduli kepada temannya yang kesulitan. Di luar misi politik, kata Nezar, Andi adalah sosok yang memerhatikan kawan tak peduli haluannya apa.

"Ketika saya terjebak dalam gencatan senjata yang macet di pedalaman Aceh, saat TNI garang bertempur dengan GAM waktu itu, dia mengirim pesan pendek setelah melihat berita tentang itu di televisi: 'Segera kembali ke Jakarta ya. Kamu jangan mati dulu'. Saya membacanya sambil tersenyum kecut," kenang Nezar yang kini dikenal pula sebagai anggota Dewan Pers Indonesia tersebut.


Seperti Nezar, kawan sesama aktivis Andi namun kini berbeda gerbong, Budiman Sudjatmiko pun melontarkan pendapatnya perihal kasus yang menjerat rekan lamanya tersebut lewat akun media sosial pribadinya.

Andi Arief dan Budiman Sudjatmiko adalah mantan kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1990an silam. Keduanya pun sama-sama menempuh pendidikan tinggi di UGM Yogyakarta. Budiman, yang kini dikenal sebagai politikus PDIP itu mengaku sedih mendengar kasus yang menjerat Andi.

"Apa sih nikmatnya narkoba, ndi? Bukankah lebih nikmat berdiskusi ide-ide besar buah pikir orang-orang besar, dan kita sendiri," tulis Budiman di akun Twitternya, Senin (4/3) petang.
Komentar

Berita Terkini