Isu Desa Wisata di Lombok Tengah Booming, Ini Kata Ketua Kasta NTB

Isu Desa Wisata di Lombok Tengah Booming, Ini Kata Ketua Kasta NTB


Penainspirasi.com - Ketua Kasta Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Wink Haris angkat bicara terkait boomingnya isu desa wisata akhir-akhir ini di Lombok Tengah. Kasta NTB melihatnya dari dua sisi.

"Kalau melihat antusiasme masyarakat tentu hal ini sesuatu yang positif artinya kesadaran warga untuk memaksimalkan potensi desa masing masing sudah mulai terbangun," kata Lalu, Jumat (8/2/2019).

"Setidaknya mereka berekspektasi bahwa desa mereka ke depannya juga bisa dan layak dijual untuk mendapatkan income dari sektor pariwisata dan tidak semata-mata mengandalkan sektor pertanian dan sumber Dana Desa yang tentu saja terbatas jumlahnya," lanjutnya.

Namun menurut Lalu, ada beberapa hal yang dilupakan bahwa membangun desa wisata juga tidak bisa hanya bermodalkan semangat dan keinginan yang kuat. Tapi kata dia, juga harus berpijak pada realitas potensi desa yang layak dijadikan andalan untuk dipromosikan menjadi brand dan produk unggulan.

Beberapa syarat mendasar yang harus disiapkan oleh desa wisata tentu saja adalah potensi alam yang indah, budaya dan atau kuliner yang dianggap unik, menarik dan beda, jaminan keamanan, layanan transportasi dan media telekomunikasi yang memadai, dukungan semua stake holder masyarakat di desa yang bersangkutan, dan ketersediaan infrastruktur pendukung lainnnya seperti sarana penginapan yang layak.

"Jika syarat syarat dasar saja tidak mampu dipenuhi tapi dipaksakan untuk dilabeli desa wisata maka Kasta NTB mengkhawatirkan jika nantinya isu desa wisata hanya menjadi ajang pencitraan dan kepentingan oknum yang berakhir pada kekecewaan masyarakat karena berujung PHP," ungkapnya.

"Maka biarkan masyarakat desa dengan kedamaiannya, karena justru booming isu menbangkitkan desa wisata nanti jangan sampai mengaburkan eksistensi desa wisata yang sudah lama ada," tambah Lalu.

Karena fakta empiriknya desa-desa wisata yang ada lahir secara alami dengan potensi yang ada dengan karakteristik masing masing, bukan dibangun dengan sebuah spot buatan ajang selfi dari sebuah berugak bambu dan sebuah bukit gundul.

"Artinya semua harus muncul alamiah tapi terkonseptual, dan bukan rekayasa," pungkasnya. (*)
Komentar

Berita Terkini