Kontroversi Puisi Sukmawati, Begini Reaksi Ketum Gempar



JAKARTA - Puisi yang bertajuk "Ibu Indonesia" Sukmawati yang kontroversi kini menuai protes. Dari kalangan para ulama, aktivis muslim terutama para alumni 212 hari ini mendatangai Bareskrim Polri di Gambir Jakarta Pusat untuk melaporkan tindakan yang dianggap penistaan agama.

Ribuan umat islam dari berbagai ormas baik secara berkelompok maupun perseorangan hadir dalam mendukung sekaligus meminta agar pihak kepolisian untuk segera memproses atas laporan tersebut guna memenuhi rasa keadilan di tanah air.

KH. Slamet Ma'arif selaku ketua umum Persaudaraan Alumni 212 mengatakan dalam orasinya "Bahwa hukum harus ditegakan terhadap penista agama. Tanpa membedakan walaupun dia (Red-Sukmawati) sebagai anak proklamator dan pendiri bangsa ini. Karena semua warga negara sama kedudukannya dimuka hukum" teriaknya dengan tegas disambut dengan takbir.

Bang Jalih Pitoeng salah satu alumni 212 yang juga hadir dalam aksi damai tersebut menyampaikan bahwa "Tak  seorangpun di negeri ini yang boleh menistakan agama. Karena kita adalah negara yang berdasarkan ketuhanan".

Ketua Umum GEMPAR (Gerakan Masyarakat Pengemban Amanat Rakyat) yang juga terlibat membantu pagar betis didepan gerbang Bareskrim bersama dengan barisan para Jawara dalam aksi tersebut menambahkan "Negeri ini telah dimerdekakan dengan pekik takbir, tumpahan darah dan airmata para ulama, santri, pahlawan dan pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk indonesia tercinta" ungkapnya ditengah-tengah aksi damai tersebut. Jum'at (06/04/2018)

Masih menurut tokoh pemuda betawi pemilik nama asli Muhidin Jalih "Kita harus saling menghormati dan menghargai agama apapun yang sah di negeri ini. Dan kita ketahui bersama bahwa pancasila merupakan sebuah konsensus para Alim ulama, politisi dan kaum cendikia kala itu yang merumuskan UUD 1945. Untuk itu dalam kesempatan ini saya berharap agar seluruh anak bangsa khususnya para genarasi muda untuk mau membaca sejarah agar bisa memahami nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa ini dimasa lalu" Pintanya penuh harap.

"Marilah kita menjaga keutuhan bangsa ini dalam rajutan kebhinekaan. Karna kita yakin bahwa indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia di akhir zaman sebagai satu-satunya negara yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.  Hampir seluruh agama yang ada diplanet ini ada di indonesia" tutupnya denga gema takbir.

Sampai berita ini diturunkan, para delegasi atau utusan masih berada didalam Bareskrim diantaranya adalah Dr. H. Eggi Sudjana, KH. Selamet Ma'arif, Mag, KH. Abdul Rasyid, KH. Shobri Lubis, Ust Asep Syarifudin serta para petinggi Persaudaraan Alumni 212 lainnya.

Diakhir penutup acara aksi tadi, KH. Shobri Lubis selaku ketua umum DPP FPI juga menegaska bahwa jika ada pihak-pihak yang meminta umat islam memaafkan Sukmawati dirinya sebagai umat islam bisa saja memaafkan jika itu masalah pribadi. Namun "Kita dan siapapun tidak berhak memaafkan karena itu adalah hak Allah karen agama islam yang dinista" dengan nada yang cukup keras dari atas mobil komando aksi.

Sebelumnya Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI pusat Prof. KH. Didin Hafidhuddin, MSc juga menyampaikan  "Sehubungan dengan ajakan bagi umat Islam untuk memaafkan Sukmawati, saya ingin sampaikan bahwa umat Islam memang umat pemaaf dan diperintahkan untuk terus  saling memaafkan seperti perintah Allah SWT  dalam QS Ali Imran ayat 134 dan 135. "Tetapi hal tersebut jika berkaitan dengan urusan pribadi. Tidak boleh ada saling mendendam" ucapnya.

"Namun jika berkaitan dengan penistaan Agama seperti puisi Sukmawati yang menghujat syariat cadar dan syariat azan maka hukum harus ditegakkan" tegasnya.

"Jadi bagi orang yang secara sadar dan sengaja menghina syariat Islam harus diproses dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku" pintanya.

Semoga dengan dilaksanakannya aksi damai ini yg juga dilaksanakan dibeberapa provinsi lainnya agar menjadi sebuah pembelajaran bagi seluruh warga negara untuk saling menghormati dan menghargai syariat agama islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat indonesia.

Disamping itupula agar para tokoh, politisi, pejabat serta kaum intelektual serta artis dan seniman agar lebih cerdas dalam berucap dan bijak dalam bertindak. (BJP)
Komentar

Berita Terkini